Makalah Tentang Film Indonesia (Film Horor)

Posted by ReTRo

BAB I
PENDAHULUAN



Dunia perfilman Indonesia pada sepuluh tahun terakhir ini mulai bangkit dengan hadirnya film-film baru. Sekarang tidak jarang di satu studio film kita menyaksikan dua atau tiga film Indonesia diputar dalam waktu yang bersamaan. Pemandangan yang memberikan setitik harapan bagi perkembangan sinema Indonesia sebagai bagian dari ekspresi budaya bangsa. Genrenya pun mulai bervariasi, dari film drama, komedi, laga, dunia remaja, sampai film horor. Genre yang terakhir ini tampaknya menjadi genre yang paling diminati, baik oleh produser sebagai pembuat film, maupun oleh penonton sebagai penikmat film. Hal ini terlihat dari jumlah produksi film horor baru tahun 2006 hingga pertengahan 2007 yang mencapai lebih dari 20 film. Bioskop-bioskop bahkan sampai hari ini masih terus diserbu oleh serangkaian film horor terbaru yang pada tahun 2009 ini sudah diluncurkan atau masih dalam masa produksi.

Makalah ini akan menjelaskan konsep-konsep film horor sebagai sebuah genre dan konvensinya, perkembangan genre film horor di Indonesia, dan tema-tema yang muncul dalam film horor Indonesia.















BAB II
PEMBAHASAN




Genre Film Horor:  Konvensi, ekspektasi, dan fungsi.


Genre film horor telah hadir sejak masa film awal (early cinema)2 di akhir abad ke-19. Tercatat Georges Meliès, pelopor film fiksi ilmiah pertama di dunia, membuat sebuah film berjudul le Manoir du diable pada akhir tahun 1896. Kemudian ada F. W. Murnau dari Jerman dengan film Nosferatu, sosok vampire pertama yang muncul di film pada tahun 1922. Selanjutnya tokoh-tokoh seperti mumi, drakula, monster frankenstein, manusia serigala, dan sebagainya mulai menjadi figur-figur abadi yang menghiasi film-film horor sepanjang zaman.

Vincent Pinel dalam bukunya Genres et Mouvements Au Cinéma (2006:124) menyebutkan bahwa film horor adalah film yang penuh dengan eksploitasi unsur-unsur horor yang bertujuan membangkitkan ketegangan penonton. Genre ini mencakup sejumlah subgenre dan tema-tema yang terus berulang, seperti pembunuhan berantai, vampire, zombie dan sebangsanya, kesurupan, teror makhluk asing, kanibalisme, rumah angker, dan sebagainya.

Genre horor di Eropa, menurut Carrroll (1990:55) merupakan produk dari sastra Gothic yang muncul pada pertengahan abad ke-18 di Inggris dan Jerman. Kemunculannya sastra Gothic ini erat kaitannya dengan dominasi rasionalisme dan perkembangan ilmu pengetahuan yang menjunjung tinggi nilai objektif. Sastra Gothic muncul mewakili sisi gelap abad pencerahan masa itu yang menyembunyikan kecenderungan-kecenderungan imajinatif, irasional, subyektif dan dekat dengan hal-hal supranatural (Carroll, 1990: 56). Dalam hubungannya dengan masalah supranatural, pembicaraan tentang genre horor dalam sastra kemudian bersinggungan dengan genre fantastik menurut Todorov. Dalam hubungannya dengan genre fantastik, demikian juga dengan karya sastra, yang muncul pada abad ke-19, Pinel menyebutkan bahwa genre horor merupakan wilayah fantastik yang menitik beratkan pada efek horor yang ditimbulkannya pada penonton, baik melibatkan monster, bencana, atau sisi-sisi monster dalam tubuh manusia. (Pinel, 2000:125)

Seorang kritikus film Amerika, Charles Derry dalam bukunya Dark Dreams: A Psychological History of the Modern Horror Film (1977: 97) membagi genre horor dalam tiga subgenre, yaitu horror-of-personality (horor psikologis), horror-of-Armageddon (horor bencana), dan horror-of-the-demonic (horor hantu).

Horor jenis pertama adalah Horror-of-personality atau horor psikologis, yang tidak lagi menjadikan tokoh-tokoh mitos, seperti vampir, iblis, dan monster sebagai tokoh utamanya. Dalam horor jenis ini, kita berhadapan dengan tokoh-tokoh manusia biasa yang tampak normal, tetapi di akhir film mereka memperlihatkan sisi “iblis” atau “monster” mereka. Biasanya mereka adalah individu-individu yang “sakit jiwa” atau terasing secara sosial. Tokoh Norman Bates dalam Psycho karya Alfred Hitchcock (1960) dan Hannibal Lecter dalam The Silence of the Lambs (1991) adalah dua figur kuat yang mewakili genre ini.

Film Psycho juga dianggap memberikan model psikopat “sejati” yang kemudian akan muncul dalam film-film sesudahnya, terutama dengan adegan pembunuhan paling mencekam, yaitu adegan pembunuhan di dalam kamar mandi shower. Menurut Derry, adegan pembunuhan yang sarat dengan kengerian dan cipratan darah ini, kemudian menjadi inspirasi bagi jenis film horor slasher yang mengeksploitasi adegan kekerasan eksplisit yang melibatkan senjata tajam, seperti pisau, alat pemecah es, kampak, sabit rumput, gergaji mesin dan sebagainya. Perkembangan dari horor jenis ini di Amerika bisa dilihat dalam film-film seperti, The Texas Chainsaw Massacre dan Halloween.

Horror-of-the-Armageddon atau horor bencana adalah jenis film horor yang mengangkat ketakutan laten manusia pada hari akhir dunia, atau hari kiamat. Manusia percaya bahwa suatu hari dunia akan hancur dan umat manusia akan binasa. Di dalam film horor bencana ini kehancuran dunia bisa disebabkan oleh banyak faktor, seperti peristiwa alam (tabrakan meteor, tsunami, atau ledakan gunung berapi), serangan mahluk asing, serangan binatang, atau kombinasi semua faktor. Menurut Derry, film The Birds (1963) karya Alfred Hitchcock adalah salah satu film klasik genre ini. Film-film yang memiliki pola yang sama dengannya di kemudian hari misalnya, The Fly, The Alien, The Thing, Alligator dan lainnya. Kata “Armageddon” (nama tempat pertempuran terakhir antara kejahatan melawan kebaikan menjelang hari kiamat dalam naskah Injil) diambil oleh Derry bukan karena konotasi religiusnya. Ia menggunakan kata itu karena film-film ini selalu menampilkan pertempuran yang bersifat mutlak, mitis, dan berdampak kejiwaan yang besar karena manusia dihadapkan pada proses kehancuran yang cepat, massif dan mengerikan. Rasa ngeri yang ditimbulkan mengangkat rasa ketakberdayaan atas kehancuran global, kengerian akan kehampaan karena segala kemajuan peradaban umat manusia akan musnah dan sia-sia. Film

Dawn of the Dead (1978) karya George P. Romero yang menampilkan “wabah” zombie alias mayat-mayat hidup di seluruh dunia, yang mengincar orang-orang yang masih hidup untuk mereka makan atau dijadikan zombie, merupakan salah satu contoh terbaik film horor jenis ini.

Ketiga, Horror-of-the-Demonic, atau horor hantu yang paling dikenal dalam dunia perfilman horor. Film horor jenis ini menurut Derry, menawarkan tema tentang dunia (manusia) yang menderita ketakutan karena kekuatan setan menguasai dunia dan mengancam kehidupan umat manusia. Kekuatan Setan itu dapat berupa penampakan sosok spiritual, seperti dalam Don’t Look Now (1973) karya Nicolas Roeg, atau dapat pula muncul dalam sosok hantu, penyihir jahat, iblis, setan, dan sebagainya. Beberapa film yang termasuk dalam kategori ini adalah Nightmare on Elm Street, Child’s Play, dan Friday 13th.

Sebagai sebuah genre, film horor memiliki beberapa konvensi atau formula yang mencakup seting ruang dan waktu, tokoh, dan alur yang harus dipenuhi. Will Wright, seorang sineas Amerika independen, dalam tulisannya yang berjudul Understanding Genres: The Horror Films memerinci beberapa konvensi genre film horor, sebagai berikut.3

  1. Tokoh utama biasanya adalah korban yang mengalami teror atau tokoh pembawa bencana.

  1. Tokoh Antagonis atau tokoh pembawa kejahatan biasanya terasing atau tersingkir secara sosial atau bukan bagian dari dunia nyata

  1. Dekor ruang relatif monoton. Misalnya sebuah rumah, kota terpencil, rumah sakit. Dekor waktu didominasi malam hari atau suasana gelap.

  1. Tokoh agama sering dilibatkan untuk menyelesaikan masalah

  1. Hal-hal supranatural atau tahayul dipakai untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dijelaskan secara rasional.

  1. Tokoh anak biasanya memiliki kekuatan berkat kemurnian jiwa mereka.

  1. Adegan kekerasan fisiksering menjadi warna utamanya, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah.

  1. Teknologi sering menjadi salah satu pemicu masalah. Kearifan lokal dan kedekatan manusia dengan alam justru yang menjadi pemenangnya.


Konvensi film horor menurut Will Wright ini memang masih sangat umum dan masih bisa diperdebatkan. Terlebih lagi untuk film horor Indonesia khususnya, karena sampai hari ini belum ada yang membakukan karakteristik yang membedakan film horor Indonesia dengan film horor negara lain. Namun di dalam tulisannya Will Wright menyatakan bahwa film horor adalah film yang paling memungkinkan para sineas untuk bebas membuat adegan apa saja, dari yang paling rasional sampai yang paling tidak masuk akal. Justru konvensi-konvensi itu malah akan membuat film horor menjadi tidak berkembang atau terjebak dalam

“klise”.



Genre film tidak hanya berhubungan dengan masalah konvensi atau formula film, tetapi juga berhubungan dengan ekspektasi penonton yang harus dipenuhi ketika mereka memilih salah satu film untuk ditonton. Menurut Boggs, film bergenre diharapkan memenuhi ekspektasi penonton dengan cara yang mudah, lengkap, dan total. (Boggs, 1991: 351). Dalam kasus film horor, Noël E. Carroll dalam bukunya The Philosophy of Horror, Or, Paradoxes of the Heart menyatakan bahwa para pecinta atau penonton film horor memiliki apa yang disebut sebagai “kenikmatan paradoksal” (Carroll,1997:182). Kenikmatan paradoksal
3 Will Wrigth, Undestanding Genres: The Horror Films,  www.The People’s Media Company.com. Diakses pada tanggal 11 Maret 2007. Pukul 15.00.
mengandaikan adanya kebutuhan yang tak terpisahkan akan “kenikmatan yang menyenangkan” dan “kenikmatan yang menyakitkan atau menyiksa”. Para penonton datang ke gedung bioskop dengan kesadaran untuk mendapatkan pengalaman menakutkan, mengerikan, atau menjijikkan yang dalam realitas sehari-hari justru mereka hindari. Kenikmatan seperti apa yang ingin didapatkan?

Carroll menyatakan bahwa di dalam kesehariannya, manusia (di Eropa dan Amerika) dididik secara rasional (1990: 52). Artinya semua pertanyaan yang muncul tentang kehidupan sehari-hari dicoba dijawab dengan argumentasi yang sesuai dengan akal. Hal ini tentu saja tidak menjamin semua pertanyaan dapat dijawab, terutama yang berhubungan dengan masalah supranatural, sehingga menimbulkan dugaan-dugaan atau tetap menyisakan pertanyaan tanpa jawaban. Misalnya, apakah vampir itu benar-benar ada, atau apakah ruh manusia yang telah mati bisa membalas dendam. Membaca atau menonton cerita horor memungkinkan seseorang melakukan konfirmasi atas keraguan atau dugaan yang mereka miliki. Setidaknya di dalam cerita atau film yang mereka tonton mereka dapat menemukan kenikmatan bertemu dengan hal-hal yang dalam keseharian dianggap sesuatu yang mustahil.

Kebutuhan akan konfirmasi ini tidak berhenti pada masalah ada atau tidak saja, tetapi terus berkembang. Tidak lagi hanya mempertanyakan apakah satu monster atau satu hantu benar-benar ada, tetapi serangkain pertanyaan menyusul: bagaimana mereka muncul, mengapa mereka muncul, apa kekuatan dan kelemahan mereka, bagaimana manusia menghadapinya, dan seterusnya (Carroll, 1990: 67). Hal inilah yang tampaknya harus dijaga dengan sangat ketat oleh pembuat film horor, karena keberhasilan sebuah cerita, termasuk cerita horor terletak pada strategi penataan pertanyaan dan jawaban, dari kejutan satu ke kejutan lainnya yang mengarah pada “kejutan akhir”. Menjaga kejutan demi kejutan hingga akhir inilah yang dianggap sebagai formula paling jitu yang menyebabkan film horor sampai hari ini masih menjadi genre film yang relatif digemari di seluruh dunia.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, pernyataan Carroll tentang masyarakat rasional perlu dipertanyakan lebih lanjut. Apabila di Eropa atau Amerika masyarakatnya mengedepankan pendidikan rasional, maka di Indonesia sebaliknya. Sejak kecil, pendidikan yang diterima tidak pernah lepas dari tabu dan tahayul. Hal-hal yang berhubungan dengan supranatural juga menjadi bagian yang tak terpisahkan. Meskipun demikian teori Carroll tentang kebutuhan akan konfirmasi tetap dapat diterapkan di dalam konteks masyarakat Indonesia, karena pengalaman supranatural adalah pengalaman yang tidak dialami oleh setiap orang. Membaca atau menonton cerita horor menjadi sarana konfirmasi atas keinginan dan ketakutan menjalani pengalaman supranatural.

Selama dua dasawarsa terakhir ini film horor kembali menjadi primadona di berbagai belahan dunia dengan beragam subgenrenya. Beberapa film horor yang sukses pada tahun 1970an dibuat sekuelnya atau didaur ulang dengan versi yang lebih segar, meskipun tidak selalu lebih baik atau lebih sukses dari pendahulunya. The Omen, The Exorcist, Resident Evil,

The Texas Chainsaw Massacre, Hannibal Lecter merupakan film-film yang termasuk dalam kategori tersebut. Daur ulang tidak hanya berlaku untuk film-film Amerika saja, tetapi juga untuk film horor Jepang seperti The Ring, Dark Water dan The Eye. Seperti halnya fenomena chick lit dalam sastra yang memberi ruang sekaligus mengeksploitasi dunia kaum muda dan dinamika masyarakat urban, film horor kontemporer juga mulai mengangkat dunia remaja dan dunia kaum muda urban.4 Sebut saja Scream I, Scream II, Scream III, I Know what you did Last summer, dan The Grudge. Film-film yang disebut terakhir inilah yang kemudian dianggap sebagai model bagi film-film horor Indonesia generasi baru.






Genre Film Horor di Indonesia

Di Indonesia, genre ini juga telah hadir sejak lama. Berbeda dengan masyarakat Eropa dan Amerika yang cenderung lebih rasional, masyarakat Indonesia sangat dekat dengan dunia supranatural. Latar belakang kemunculan genre ini di Indonesia memang masih memerlukan kajian yang mendalam, namun mengingat dunia supranatural, tahayul, dan cerita-cerita hantu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakatnya, maka sangatlah masuk akal apabila genre ini tumbuh subur dan disukai.

Ada dua film yang sering disebut sebagai film horor Indonesia pertama. Tercatat Tengkorak Hidoep (1941) karya Tan Tjoei Hock dan Lisa karya M. Shariefuddin yang diproduksi tahun 1971 yang menjadi peletak dasar genre film horor di Indonesia. Menurut Adi Wicaksono & Nurruddin Asyhadie (2006: 2), adanya perbedaan penentuan film horor pertama Indonesia itu tampaknya terjadi karena pendasaran definisi horor yang dipakai berbeda. Tengkorak Hidoep menampilkan sebuah horror of the demonic, monster yang bangkit dari kubur dan ingin membalas dendam pada reinkarnasi orang yang telah membunuhnya dalam sebuah pertarungan. Sebuah alur cerita dasar yang biasanya dipakai dalam horor jenis ini. Lisa merupakan sebuah horror of the personality, yang menampilkan seorang Ibu tiri yang meminta seseorang ,membunuh anak tirinya. Selanjutnya sang ibu dihantui bayangan anak tirinya yang sesungguhnya masih hidup, dan bersembunyi di suatu tempat. Apabila kita mengambil Lisa sebagai film horor pertama, maka sejarah film horor Indonesia dimulai oleh horror-of-personality. Sedangkan apabila kita menerima Tengkorak Hidoep sebagai film horor pertama kita, maka sejarah film horor Indonesia dipelopori oleh film berjenis horror of the demonic atau horor hantu.

Masih menurut Adi Wicaksono & Nurruddin Asyhadie (2006:3), perkembangan film horor Indonesia kemudian merupakan pertarungan dua jenis horor tersebut, antara film horor psikologis dan film horor hantu. Sejarah membuktikan bahwa pertarungan dimenangkan oleh horor hantu. Tengkorak Hidoep terbukti lebih banyak ditonton orang daripada Lisa. Beberapa tahun setelah Lisa diproduksi muncul film horor psikologis lain berjudul Pemburu Mayat, diproduksi pada tahun 1972, berkisah tentang pencuri mayat yang mengidap nekrofilia (suka menyetubuhi mayat). Pada saat yang bersamaan muncul film-film seperti Beranak dalam Kubur (1971), yang menceritakan hantu perempuan yang bangkit dari kubur demi membalas dendam pada kakak yang membunuhnya untuk menguasai perkebunan milik keluarga dan film Ratu Ular (1972), menceritakan seorang janda cantik kaya yang memiliki perjanjian dengan setan. Kedua film horor hantu tersebut ternyata kembali lebih sukses di pasaran dibandingkan film horor psikologis. Film Beranak dalam Kubur bahkan menandai kelahiran

“sang ratu” abadi film horor Indonesia, Suzanna, yang kemudian merajai dunia horor di Indonesia era tahun 70-80an.

Terlihat pada tahun-tahun selanjutnya, dalam dekade 70-an, film horor hantu memenangi pertarungan. Ada 20 judul film horor yang diproduksi selama 1973—1979, semuanya menampilkan horor hantu yang bercampur dengan okultisme, sadisme, seks, dan komedi: Cincin Berdarah (1973) Mayat Cemburu (1973) Si Comel (1973), Si Manis Jembatan Ancol (1973), Drakula Mantu (1974), Kemasukan Setan (Dukun) (1974), Kuntilanak (1974), Arwah Penasaran (1975), Penghuni Bangunan Tua,(1975), Setan Kuburan (1975), Ingin Cepat Kaya (1975), Arwah Komersil dalam Kampus (1977), Dewi Malam (1978), Godaan Siluman Perempuan (1978), Pembalasan Guna-Guna Istri Muda (1978), Tuyul (1978), Kutukan Nyai Roro Kidul,(1979), Penangkal Ilmu Teluh,(1979), Tuyul Eee Ketemu Lagi (1979), dan Tuyul Perempuan (1979).

Masa kejayaan film horor Indonesia adalah era tahun 80an. Kejayaan di sini bukan hanya dari tingginya jumlah produksi film, tetapi juga tingginya jumlah penonton, dan banyaknya film horor pada masa ini yang mendapatkan penghargaan dari sisi kualitas. Tercatat 69 judul film horror, jumlah produksi tertinggi genre horor sampai saat ini, dapat dinikmati penonton. Horor hantu masih menjadi favorit. Dari 69 judul tersebut hanya ada satu yang mengambil bentuk horor psikologis, yaitu Misteri Sumur Tua (1987). Penghargaan dunia film juga didapatkan oleh film horor. Ratu Pantai Selatan (1980) mendapatkan piala LPKJ pada FFI 1981 untuk Efek Khusus; Rina Hassim dalam Genderuwo (1981) masuk unggulan FFI 1981 untuk Pemeran Pembantu Wanita; Masih di FFI tahun yang sama Ratu Ilmu Hitam (1981) bahkan masuk unggulan dalam lebih banyak kategori, Suzana untuk Pemeran Utama Wanita, WD Mochtar untuk Pemeran Pembantu Pria, juga editing, fotografi, dan artistik. Pada FFI 1987, 7 Manusia Harimau (1986) masuk unggulan untuk Pemeran Pembantu Pria (Elmanik), sementara Pernikahan Berdarah (1987) diunggulkan untuk kategori Artistik pada FFI 1988.

Jumlah penonton juga sangat baik, terutama untuk film-film horor hantu. Sundel Bolong (1981), Nyi Blorong (1982), Setan Kredit (1982), Telaga Angker (1984), dan Santet

(1988) secara meyakinkan menjadi salah satu film terlaris pada masanya dengan jumlah penonton rata-rata di atas 250.000 penonton. Pada masa ini juga melahirkan film Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986) yang sempat dilarang diputar di Lampung dan di beberapa kota karena sadisme dan pornografi.

Pada tahun-tahun selanjutnya, jumlah produksi film horor menurun sampai lebih dari separuh, sekitar 33 judul. Hal ini sejalan juga dengan lesunya dunia perfilman Indonesia secara menyeluruh. Tidak ada terobosan baru baik dari segi tema atau dari segi penyajian. Sebagian besar film yang ada hanya mengulang tema-tema yang sebelumnya telah dibuat, seperti sekuel dari film sebelumnya: Misteri dari Gunung Merapi II (Titisan Roh Nyai Kembang) (1990), Misteri dari Gunung Merapi III (Perempuan Berambut Api) (1990), yang melanjutkan Misteri dari Gunung Merapi (Penghuni Rumah Tua), (1989) atau versi layar lebar serial televisi yang sukses, seperti Si Manis Jembatan Ancol (1994). Keberhasilan Petualangan Cinta Nyi Blorong dalam memadukan horor dan eksploitasi tubuh perempuan menjadi formula selanjutnya yang mengantarkan perfilman Indonesia pada masa kejatuhan.

Gairah Malam (1993), Godaan Perempuan Halus (1933), Misteri di Malam Pengantin (1993), Susuk Nyi Roro Kidul (1993), Godaan Membara, 1994, Cinta Terlarang (1994), Pawang (1995), Bisikan Nafsu (1996), Mistik Erotik (1996), Rose Merah, (1996), Birahi Perempuan Halus (1997) adalah judul-judul film yang khas pada masa itu.

Di tengah-tengah “rimba” film-film horor hantu pada tahun 1990an, muncul satu film horor psikologis yang sayangnya tidak mendapatkan apresiasi baik dari penonton. Film itu berjudul Guntur Tengah Malam (1990), yang berusaha memadukan horor psikologis dengan horor hantu. Ada juga Kisah Nyata Dukun AS (Misteri Kebun Tebu) (1997) dan Misteri Banyuwangi (Dukun Santet) (1998) yang mencoba memunculkan gagasan segar dengan mengangkat kisah nyata ke dalam film horror. Kisah Nyata Dukun AS mengangkat pembunuhan berantai yang dilakukan dukun berinisial AS yang mengaku telah membunuh 42



orang, setelah ditemukannya mayat 26 perempuan di Perkebunan Nusantara II, Dusun I, Kelurahan Aman Damai, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, tahun 1997; dan

Misteri Banyuwangi yang mengangkat ke layar lebar kasus “perburuan para dukun” pada tahun 1998 di daerah Jawa Timur yang hingga kini belum terungkap benar pelakunya.

Film Horor Indonesia Kontemporer

Memasuki tahun 2000an, film horor Indonesia memulai era baru. Generasi sineas baru yang muncul sebagian besar tidak memiliki ikatan langsung dengan sejarah film horor Indonesia sebelumnya. Beberapa merupakan jebolan sekolah film luar negeri yang sebelumnya lebih banyak bekerja di bidang periklanan dan pembuatan video klip atau film dokumenter. Jelangkung (2001) karya Rizal Mantovani dan Jose Purnomo langsung mencuat, memberi sentuhan yang berbeda dengan mengandalkan kekuatannya dalam fotografi, editing,dan suara. Film ini menandai kembalinya penonton ke bisokop-bioskop. Dari Oktober 2001 sampai Januari 2002 Jelangkung ditonton 748.003 orang di Jabotabek. Pada Festival Film Bandung 2002, ia mendapatkan penghargaan Terpuji untuk Efek Khusus. Edna C. Pattisina dari harian Kompas bahkan mencatat dalam artikel “Selamat Datang di Republik Hantu” (Kompas, 25 Maret 2007), bahwa film ini mencapai rekor 1,5 juta penonton.


Masih di artikel yang sama kita dapat melihat data film-film horor yang diproduksi dan diedarkan tahun 2006-2007 yang secara meyakinkan mampu meraup penonton lebih dari 500 ribu orang. Maka tidak mengherankan, dari sisi komersial, film-film horor ini menjadi andalan bagi para produser yang ingin segera mendapatkan kembali modalnya dan mendapatkan keuntungan dengan cepat.

Jelangkung (2001), Kafir (2002), Titik Hitam ( 2002), Tusuk Jelangkung (2002), The Soul (2003), Ada Hantu di Sekolah (2004), Bangsal 13 (2004), Missing (2005), Rumah Pondok Indah (2006), Mirror (2006), Kuntilanak (2006), Pocong 2 (2006), Hantu Jeruk Purut (2006), Bangku Kosong (2006), Terowongan Casablanca (2007), dan Tali Pocong Perawan (2008) adalah film-film horor Indonesia yang termasuk dalam jajaran film terlaris pada tahun 2001 sampai tahun 2008.

Seperti halnya Jelangkung, film-film horor era baru yang menyerbu penonton Indonesia ini tidak lagi tergantung pada legenda-legenda tradisional, seperti Nyai Roro Kidul atau Nyi Blorong. Sebagian besar film menghadirkan karakter-karakter remaja dan lingkungan perkotaan, yang sebelumnya tak pernah disentuh oleh film horor Indonesia. Gelombang film horor internasional tampaknya sangat mempengaruhi film horor Indonesia baru. Film Jelangkung ini juga dipengaruhi film-film J-Horror (horor Jepang) yang mencuat ke kancah internasional semenjak keberhasilan Ringu karya Hideo Nakata di tahun 1997. J-Horror lebih menampilkan adegan-adegan menegangkan dan mengerikan dengan teknik visual yang canggih dan indah. Semenjak Scream (1996) mencatat sukses besar, karakter-karakter remaja dan kehidupan urban dalam film horor semakin merebak. Melalui film Jelangkung ini pula istilah legenda urban mulai memasuki wacana perfilman Indonesia, khususnya film bergenre horor. Legenda urban yang diangkat dalam film Jelangkung adalah legenda kota berhantu Angker Batu, sebuah rumah sakit tua di Jakarta yang memiliki sosok hantu, yang kemudian menjadi salah satu sosok paling diminati dalam film horor Indonesia, yaitu suster ngesot. Segera saja, kata legenda urban itu ditangkap oleh para produser film Indonesia dan

“naluri bisnis” mereka ternyata tidak salah. Pada tahun 2006, 4 dari 6 film yang sukses menarik penonton lebih dari 700 ribu penonton adalah film horor hantu dan semuanya mengangkat tema legenda urban: Rumah Pondok Indah (2006), Kuntilanak (2006), Hantu Jeruk Purut (2006), dan Hantu Bangku Kosong (2006).

Selain tema legenda urban, film-film horor Indonesia banyak didominasi oleh dua sosok hantu yang menarik minat penonton. Kedua sosok hantu ini mungkin dianggap dua sosok yang paling menakutkan bagi penonton Indonesia. Hal itu terlihat dari judul-judul film yang sebagian besar mengeksploitasi dua hantu tersebut, yaitu hantu pocong dan kuntilanak. Di antara dua jenis hantu tersebut, kuntilanak telah dikenal lebih luas dan menjadi sosok hantu yang paling sering muncul di film-film horor Indonesia. Penggambarannya pun relatif sama, yaitu dalam sosok perempuan berambut panjang, berbaju putih panjang, dan raut muka putih pucat dengan mata merah. Tidak ketinggalan suara tertawanya yang mengikik panjang membelah kesunyian malam. Sosok kuntilanak ini bahkan sudah tercatat sebagai salah satu hantu khas melayu yang menghantui penduduk Indonesia dan Malaysia dengan nama yang sedikit berbeda, yaitu Pontianak. Di Thailand, ada beberapa film horornya yang juga mengangkat sosok hantu perempuan ini dengan nama Nak-nak.

Sedangkan hantu pocong, adalah hantu orang mati yang hidup kembali dengan masih mengenakan kain kafan yang membungkus mayatnya. Jenis hantu ini sebelumnya telah dapat dilihat dalam beberapa adegan film horor era Suzanna, tetapi masih sebagai hantu “peran pembantu” dan biasanya tidak lepas dari dekor tanah kuburan yang menjadi “tempat tinggalnya”. Sejak Rudi Soedjarwo membuat film berjudul Pocong (2006), yang diikuti dengan Pocong 2 (2006), dan Pocong 3 (2007), maka dengan segera sosok pocong menjadi salah satu hantu yang paling banyak muncul dalam film-film horor Indonesia. Sebut saja,

Pocong vs Kuntilanak (2009), Tali Pocong Perawan (2008), 40 Hari Pembalasan Hantu Pocong (2008), The Real Pocong (2009), Sumpah Pocong di Sekolah (2008), Susuk Pocong (2009) dan Pocong Kamar Sebelah (2009). Hingga tahun 2009, film-film yang menampilkan hantu jenis ini masih terus diproduksi.

Genre film memiliki dinamika yang terus menerus berkembang sesuai dengan kreatifitas sineas dan keragaman penonton. Sebuah genre terkadang bercampur dengan genre lain untuk memenuhi hal tersebut. Film horor juga tidak terlepas dari dinamika tersebut. Karl Heider dalam bukunya Indonesian Cinema. National Culture On Screen. (1991: 44) menyatakan bahwa film horor Indonesia pada masa Orde Baru tidak bisa dilepaskan dari tiga hal, yaitu komedi, seks, dan religi. Ketiganya menjadi formula ampuh yang membuat film-film horor Indonesia digemari penontonnya. Tampaknya formula itu masih digunakan di beberapa film horor baru, hanya saja untuk tema religi sedikit berkurang. Berbeda dengan di layar televisi, film-film yang mengangkat tema “mistik” atau “klenik” memang masih banyak dijumpai. Biasanya film-film tersebut untuk menegaskan pada penonton bahwa manusia yang menentang Tuhan akan bernasib buruk dan mendapatkan siksa, baik saat mereka masih hidup maupun saat mereka sudah mati, misalnya kisah “mayat berbelatung” dan “tangisan arwah”.

Biasanya masalah yang terjadi akan selesai ketika seorang tokoh agama, kyai atau ustad sudah datang bersama rangkaian doa dan tasbih dalam genggaman. Sosok kyai seperti ini masih bisa dijumpai dalam beberapa film horor Indonesia di awal tahun 2000, yaitu Kafir dan Peti Mati. Hanya saja setelah itu, nuansa religi tidak lagi dieksploitasi dalam film-film horor Indonesia baru.


Berbeda dengan nuansa religi, komedi dan seks ternyata masih menjadi andalan film horor Indonesia saat ini. Sejalan dengan munculnya film-film Indonesia bertema komedi, maka ada pula film-film komedi yang mengangkat cerita hantu: Ada Hantu Di Sekolah (2005), Film Horor (2006), dan Hantunya Kok Beneran! (2008). Sedangkan film-film hantu yang cenderung mengeksploitasi tubuh perempuan dan seks dapat ditemukan dalam film

Tiren  (2008),  Tali  Pocong  Perawan  (2008),  Hantu  Budeg  (2009),  Hantu  Jamu  Gendong

(2009), dan Pocong Kamar Sebelah (2009), dan Paku Kuntilanak (2009) yang saat ini sedang menuai kontroversi.

Fenomena semacam ini banyak disayangkan oleh para pengamat film Indonesia. Film horor hantu Indonesia seharusnya bisa menjadi kekuatan perfilman Indonesia, tetapi pertimbangan-pertimbangan komersial sering menenggelamkan potensi kuat film Indonesia. Kritikus film Eric Sasono dalam artikelnya yang berjudul “Krisis Perfilman Indonesia?”

(Layarperak.com) menyoroti kemalasan berpikir produser dan sineas Indonesia dalam proses kreatifnya. Melihat film horor diminati penonton, maka para produser dan sineas Indonesia kemudian saling latah membuat film horor juga. Sasono bukannya anti film horor. Baginya film horor juga dapat menjadi genre kuat yang dapat melahirkan film-film berkelas. Hanya saja di Indonesia, karena pertimbangan ekonomi yang dominan, film-film horor di Indonesia tidak dibuat dengan sungguh-sungguh. Biaya yang murah, estetika yang kacau, jalan cerita yang tidak masuk akal menjadi buah dari rangkaian kemalasan tersebut. Pada akhirnya menurut Sasono, hal itu akan menjatuhkan film Indonesia, khususnya genre horor ke dalam jurang pelecehan.








BAB III
PENUTUP



Film bergenre horor di Amerika dapat dibagi dalam tiga subgenre, yaitu horror-of-personality (horor psikologis), horror-of-Armageddon (horor bencana), dan horror-of-the-demonic (horor hantu). Di Indonesia horor hantu ternyata lebih dominan dibandingkan kedua subgenre horor yang lain. Bahkan dapat dikatakan bahwa di Indonesia, apabila kita menyebutkan film horor, maka hal itu berarti kita akan berhadapan dengan film horor hantu.

Dalam khasanah film horor Indonesia ada dua hantu yang mendominasi layar lebar, yaitu hantu kuntilanak dan hantu pocong. Akan menarik tampaknya untuk melihat latar belakang kedua sosok hantu tersebut dalam kaitannya dengan hal-hal yang paling menakutkan bagi penonton film Indonesia. Hantu pocong mungkin bahkan bisa disebut sebagai hantu khas Indonesia.

Dimulai dengan film Jelangkung (2001) film horor Indonesia mulai berpindah dari horor dengan tema legenda tradisional ke horor dengan tema legenda urban. Sebagian besar film horor bertema legenda urban mampu menarik perhatian penonton hingga mencapai lebih dari 500 ribu penonton. Kecenderungan ini sangatlah menarik untuk diteliti lebih lanjut dalam perkembangan film horor Indonesia kontemporer













DAFTAR REFERENSI


Buku dan Artikel:

Brunvand, Jan Harold. 1984. The Choking Doberman and Other “New” Urban

Legends. New York: W.W. Norton & Company.

Derry, Charles.  1977.   Dark Dreams: A Psychological History of the Modern Horror Film,

Ohio: A.S. Barnes Noble

Heider, Karl G. 1991. Indonesian Cinema. National Culture On Screen. Honolulu: University

of Hawaii Press.

Kristanto, J.B. 2005. Katalog Film Indonesia. 1926-2005. Jakarta: penerbit Nalar

Maillot, Pierre. 1989.   L’écriture cinématographique. Paris: Méridiens Klincksieck.

Noël  E.  Carroll,  1991.    The  Philosophy  of  Horror,  Or,  Paradoxes  of  the  Heart.  London:

Routledge.

Pinel, Vincent. 2006. Genres et Mouvements Au Cinema, Paris: Larousse.

Wicaksono Adi & Nurruddin Asyhadie. 2006. “Paramarupa Film Horor Kita

(Majalah F, no. 3, Februari-Maret 2006)


Sumber Internet:



Ade. 2007. “Mengapa Rumah Pondok Indah Banyak DItonton Orang?”, dalam http://www.bintang-indonesia.com/contentd.php? . Diunduh Minggu, 25 Maret 2007, Pukul 17.45

Bawarshi, Anis. 2000. “The Genre Function” dalam College English, Vol. 62, No. 3 (Jan., 2000), pp. 335-360. National Council of Teachers of English Stable .  http://www.jstor.org/stable/378935. Diakses 8 September 2009 Pukul 01:12

Best, Joel dan Gerald T. Horiuchi . 1984. “The Razor Blade in the Apple: The Social Construction of Urban Legends” dalam Social Problems, Vol. 32, No. 5 (Jun., 1985), hal. 488-499, University of California Press untuk the Society for the Study of Social Problems.  http://www.jstor.org/stable/800777. Diunduh 24 November 2008



{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment